Minggu, 18 Maret 2012

034-Culagopalaka Sutta.

CULAGOPALAKA SUTTA

Pendahuluan

Seperti sutta 33, Sutta ini juga memperkenalkan kiasan mengenai penggem­bala cakap/mampu/tangkap dan tidak cakap tetapi mereka ini dipakai pada per­soalan subyek yang berbeda. Seorang penggembala (sapi) yang tidak cakap di­bandingkan dengan guru-guru agama yang tidak trampil di dalam dunia ini (karena mereka tidak tahu mengajar orang-orang hidup dengan penuh kedamaian, begitu juga guru lainnya karena mereka memilik kebahagiaan sendiri); dunia yang akan datang ( tidak mengetahui tindakan apa yang dianjurkan untuk mencapai kelah­iran kembali yang baik, atau memegang pandangan penghancur lainnya yang menya­takan tidak ada kehidupan berikutnya); yang menjadi milik Mara (seluruh dunia diliputi oleh keinginan dan hawa nafsu, sekalipun surga rasa keinginan atau buah atas dari keinginan itu menjadi milik Mara); apa saja yang bukan milik Mara (adalah dunia yang berupa atau tanpa rupa yang berada diluar jangkauan Mara; dasar mereka bukan keinginan rasa melainkan Jhana); yang menjadi milik Maut ( segala sesuatu yang berkondisi akan hancur, berantakan, mati, dan sebagainya); apa saja yang bukan milik Maut (keadaan tanpa kondisi, Nibbana, atau tanpa kematian). Seorang guru yang tidak mengetahui cara membedakan hal-hal ini karena benaknya masih bingung, akan membimbing pengikutnya menuju ketidak-bahagiaan dan penderitaan. Sebaliknya seorang penggembala yang trampil mengetahui semua dunia jadi dapat membawa seluruh gembalaannya melintasi Sungai Gangga. Gembala yang dibawanya melintasi sungai (pencemaran) termasuk banteng (para Arahat), ternak yang kuat (Anagami - yang tidak kembali ke dunia), sapi-sapi muda (Sakadagami - yang lahir sekali lagi) dan ternak yang lemah (Sotapanna - pelawan arus), dan anak sapi lembut yang baru lahir (mereka yang mahir dalam Dhamma, penuh keyakinan dalam Dhamma). Sang Buddha menyatakan bahwa dia adalah orang yang trampil dalam pengetahuan mengenai hal-hal diatas dan sebab itu dialah yang dapat membimbing pengikutnya menuju kesejahteraan dan kebahagiaan.

Sutta (34)


CULA GOPALAKA SUTTA

( 34 )

1. Demikianlah telah saya dengar:

Pada suatu saat Sang Bhagava sedang tinggal di negeri Vajjian di Ukkacela di tepi Sungai Gangga. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu demiki­an: "Para Bhikkhu".

"Yang mulia," mereka menjawab. Sang Bhagava berkata sebagai berikut:

2. "Para bhikkhu, pernah ada seorang penggembala Nagadha yang sejak lahir kurang mengerti dan di akhir bulan Musim Hujan, di waktu Musim Gugur, ia mengabaikan untuk memeriksa dekat pinggir Sungai Gangga atau di daerah pantai seberang, ia menggembalakan ternaknya ke tempat yang tidak ada arungan untuk diseberangi, untuk menuju pantai seberang lainnya di negeri Videhan. Kemudian ternak itu berkumpul bersama-sama di tengah arus dalam Sungai Gangga, dan ternak-ternak itu mendapat bencana. Mengapa demikian? Karena penggembala Magadha yang membawanya kurang pengetahuan dan di waktu akhir bulan Musim Hujan, di Musim Gugur, mengabaikan untuk memeriksa dekat pantai Sungai Gangga atau pantai seberangnya, ia menggembalakan ternaknya ke tempat tidak ada arungan untuk dilintasi menuju pantai seberang lainnya di negeri Videhan."

3. "Begitu juga, bila para bhikkhu atau brahmana yang tidak trampil dalam dunia ini dan dunia lainnya, tidak trampil yang menjadi milik Mara dan apa yang bukan miliknya, dan tidak trampil menjadi milik Maut dan apa yang bukan miliknya, hal itu akan lama karena ketidak bahagiaan dan penderitaan dari orang-orang (mereka) yang akan memahami penderitaan itu karena cocok untuk didengar dan cocok untuk menaruh kepercayaan di dalamnya.

4. "Para Bhikkhu, pernah ada seorang penggembala Magadha yang sejak lahir mempunyai pengetahuan dan di akhir bulan Musim Hujan, di akhir bulan Musim Hujan, di waktu Musim Gugur, setelah memeriksa dekat pantai Sungai Gangga dan pantai seberangnya, ia menggiring ternaknya ke tempat yang ada arungan untuk diseberangi, untuk menuju pantai seberang lainnya di negeri Videhan. Ia mem­buat si banteng, si bapak dan pemimpin ternak itu menyeberang lebih dahulu, dan mereka menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang. Ia menjinakkan ternak yang kuat dan ternak ini setelah dijinakkan melintas sungai berikutnya, dan ternak-ternak itu juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai berikut. Ia membuat ternak sapi yang muda untuk menyeberangi berikutnya, dan ternak-ternak itu juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang. Pernah ada seekor anak sapi yang lemah yang baru lahir, dan masih menginginkan lenguhan induknya, ia juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai yang agak jauh. Mengapa bisa demikian? Karena penggembala Magadha sejak lahir sudah berpenge­tahuan, dan di akhir bulan Musim Hujan, di waktu Musim Gugur, setelah memerik­sa dekat pantai Sungai Gangga dan pantai seberang berikutnya, ia menggembala­kan ternaknya ke tempat yang ada arungan untuk diseberangi menuju pantai lainnya di negeri Videhan."

5. Begitu juga, bila para bhikkhu atau brahmana trampil di dunia ini dan dunia lainnya, trampil dalam apa yang menjadi milik Mara dan apa yang bukan miliknya, trampil dalam apa yang menjadi milik Sang Maut dan apa yang bukan miliknya, kesejahteraan dan kebahagiaan akan lama lagi bagi orang-orang yang akan memahami ajaran kebenaran sebagai hal yang layak untuk didengar dan layak untuk dipercaya.

6. "Para bhikkhu. tepat seperti para banteng, para induk dan para pemimpin ternak, yang menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seber­ang, begitu juga para bhikkhu yang menjadi Arahat, yang tanpa noda, yang mengarungi kehidupan ini, melakukan apa yang harus dilakukan, meletakkan beban keduniawian, mencapai tujuan yang tertinggi, menghancurkan belenggu manusia, dan melalui pengetahuan akhir yang benar, terbebaskan dengan menyongsong arus Mara, dan sudah tiba dengan selamat di pantai seberang.

7. Tepat seperti ternak yang kuat dan ternak yang sudah dijinakkan menyong­song arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang telah menghancurkan lima unsur belenggu yang akan lahir kembali langsung di alam Anagami dan disana mencapai Nibbana tanpa kembali ke dunia, juga akan menyongsong arus Sang Mara, dan tiba dengan selamat di pantai seber­ang.

8. Tepat seperti sapi muda yang menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang dengan menghancur­kan tiga unsur belenggu dan dengan melemahkan hawa nafsu, kebencian dan khaya­lan adalah Sakadagami (yang kembali sekali lagi ke dunia), juga akan menyong­song arus Sang Mara, tiba dengan selamat di pantai seberang.

9. Tepat seperti anak sapi dan ternak yang lemah juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang dengan menghancurkan tiga belenggu adalah para Sotapanna, yang harus kembali ke dunia tujuh kali, tidak lagi jatuh dalam neraka, dengan kepastian menuju pencerahan yang sempurna, juga akan, menyongsong arus Sang Mara, dan tiba dengan selamat di pantai seberang.

10. Tepat seperti anak sapi yang lemah dan baru saja dilahirkan yang masih membutuhkan lenguhan induknya, juga menyongsong arus Gangga dan tiba dengan selamat di pantai seberang, begitu juga, para bhikkhu yang mahir dalam dhamma, penuh keyakinan dalam dhamma juga akan menyongsong arus Sang Mara dan tiba dengan selamat di pantai seberang.

11. Para bhikkhu, seorang Buddha trampil dalam dunia ini dan dunia selanjut­nya, trampil dalam apa yang menjadi milik Sang Mara dan apa yang bukan milik­nya, dan trampil dalam apa yang menjadi milik Sang Maut dan apa yang bukan menjadi miliknya. Orang-orang akan merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi yang akan memahami ajaran Buddha sebagai hal yang layak didengar dan layak untuk dipercayai."

12. Inilah apa yang Sang Bhagava katakan. Tatkala Sang Bhagava telah katakan hal itu, Sang Bhagava katakan lebih lanjut :

Alam ini dan alam selanjutnya kedua-duanya,

Telah dijelaskan dengan sempurna oleh Dia yang mengetahui,

Dan apa yang masih dalam cengkeraman Mara

Dan apa yang diluar cengkeraman Mara

Mengetahui secara langsung seluruh alam,

Yang telah sadar mengerti

Membuka Gerbang Keabadian, jalan menuju

Nibbana dapat dicapai dengan selamat;

Untuk menyongsong arus Mara (sekarang)

Dan menghapuskan, serta menghilangkan akarnya;

Kemudian berbahagialah, para bhikkhu, yang berjuang sekuat tenaga

Dan pastikan tujuanmu ke tempat keselamatan berada.

033-Mahagopalakasutta.

MAHAGOPALAKA SUTTA

33

1-- Demikianlah yang saya dengar.

Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman niilik Anathapindika, Savathi. Disana beliau menyapa "Para Bhikkhu".

"Ya, bhante", jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:

2-- "Para Bhikkhu, jika seorang pengembala memiliki 11 faktor, dia tidak mampu membesarkan dan memelihara ternaknya. Apa yang dimaksud dengan 11 faktor? Disini seorang pengembala tidak mempunyai pengetahuan, kemampuan untuk bertindak, dia gagal memilih mana yang baik mana yang buruk, dia gagal menutupi kekurangannya, dia gagal menghilangkan nafsunya, dia tidak mengetahui ladang subur, dia tidak tahu apa yang diterimanya, batinnya gelap, dia tidak mampu mengendalikan pikirannya, dia tidak mempunyai persediaan karma yang baik, sebagai seorang pengembala dia tidak bisa memberikan perlindungan yang dibutuhkan".

3-- Begitu juga jika seorang bhikkhu memiliki 11 sifat, dia tidak sanggup berkembang dan melaksanakan sempurna Dhamma serta disiplin. Disini seorang bhikkhu tidak mempunyai pengetahuan, kemampuan untuk bertindak, dia gagal memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dia gagal menutupi kekurangannya, dia gagal menghilangkan nafsunya, dia tidak mengetahui ladang yang subur, dia tidak tahu apa yang diterima, batin gelap, dia tidak mampu mengendalikan pikirannya, dia tidak mempunyai persediaan karma baik, sebagai seorang pengembala dia tidak bisa memberikan perlindungan yang dibutuhkan ...

4-- Kenapa seorang bhikkhu tidak mempunyai pengetahuaan? Seorang Bhikkhu tidak mengerti bentuk benda yang sesungguhnya, "Semua jenis benda terdiri dari 4 unsur utama dansemua bentuk di dapat dari 4 unsur utama". Inilah caranya kenapa bhikkhu tidak mempunyai pengetahuan.

5-- Kenapa seorang bhikkhu tidak sanggup bertindak sendiri? Seorang bhikkhu tidak mengerti apa itu karakter itu sesungguhnya; orang yang bodoh dapat dilihat dari tindakannya, orang yang bijaksana juga dapat dilihat dari tindakannya.

6-- Kenapa seorang bhikkhu tidak dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk? Ketika hawa nafsu muncul, seorang bhikkhu tidak dapat mengendalikannya, ia tidak melepaskannya, menghilangkannya, serta menghancurkannya. Ketika mara yang mengganggu Dhamma muncul, seorang bhikkhu melawannya, ia tidak melepaskannya, menghilangkannya, serta menghancurkannya.

7-- Kenapa seorang bhikkhu tidak mampu menutupi kekurangannya? dengan melihat sendiri, seorang bhikkhu memahami tanda-tanda dan ciri-ciri dimana ia tidak menjaga panca inderanya, mara yang mengganggu dhamma, iri hati dan kesedihan mungkin menggodanya, ia tidak berlatih untuk mengendalikan diri, ia tidak menjaga panca inderanya, dengan telinganya, hidungnya, dan memahami dirinya sendiri ia memahami tanda-tanda dan ciri-ciri ia menjalankan pengendalian pikirannya.

8-- Kenapa seorang bhikkhu gagal menghilangkan nafsunya? Disini seorang bhikkhu tidak mengajarkan orang lain tentang dhammna secara terperinci seperti yang didengarnya dan dikuasainya.

9-- Kenapa seorang bhikkhu tidak tahu ladang yang subur? Kadang-kadang seorang bhikkhu tidak pergi karena bhikkhu-bhikkhu itu harus banyak belajar seperti yang disebut dalam kitab, mengingat dhamma, serta kode-kode, dan ia tidak meminta dan bertanya mengenai hal-hal tersebut: Bhante, bagaimana ini?

Apa artinya ini? Orang yang terhormat ini tidak mengungkapkan apa yang harus diungkapkan, membuat terang apa yang tidak terang, atau menghilangkan keraguan-keraguannya tentang dhamma yang meragukan, itu mengapa seorang bhikkhu tidak tahu ladang yang subur".

10-- Kenapa seorang bhikkhu tidak tahu apa yang diterimanya? Ketika dhamma dan disiplin disebabkan oleh Tathagata sedang diajarkan, seorang bhikkhu tidak mendapatkan pengalaman tentang dhamma dia tidak menemukan kebahagiaan dalam dhamma.

Itulah mengapa seorang bhikkhu tidak tahu apa yang diterimanya.

11-- Kenapa seorang bhikkhu tidak tahu jalan yang benar? Seorang bhikkhu tidak mengerti jalan yang benar.

12-- Kenapa seorang bhikkhu tidak dapat membimbing? Seorang bhikkhu tidak mengerti kesadaran yang sebenarnya.

13-- Kenapa seorang bhikkhu tidak mempunyai apa-apa? Seorang pemilik rumah mengundang seorang bhikkhu yang memakai jubah, memberikan makanan, tempat untuk istirahat, dan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit, dapat dipakai sebanyak yang diinginkannya. Bhikkhu itu tidak tahu berapa banyak yang ia terima. Itulah mengapa bhikkhu tidak mempunyai apa-apa.

14-- Kenapa seorang bhikkhu tidak membuat saran-saran kepada bhikkhu yang lebih tua yang mempunyai pengetahuan banyak, yang merupakan pemimpin Sangha ? Seorang bhikkhu tidak bertahan dalam masyarakat dan pribadi bhikkhu-bhikkhu yang lebih tua yang mempunyai cinta kasih dalam perkataan dan pikirannya.

"Ketika seorang bhikkhu diberkati oleh 11 dhamma, ia tidak sanggup tumbuh, menambah Dhamma ini dan disiplinnya.

15. Bhikkhu jika seorang gembala diberkati dengan 11 unsur, ia sanggup memperbanyak dan menjaga ternaknya. Apa yang dimaksud dengan 11 unsur seorang gembala mempunyai pengetahuan, ia mampu membentuk kepribadiannya, ia dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, ia dapat menutupi kekurangannya, ia dapat memadamkan nafsunya, ia tahu ladang yang subur, ia tahu apa yang diterimanya, ia tahu jalan yang benar, ia mempunyai kelebihan, dan ia memberikan saran-saran kepada pembimbing yang juga merupakan ayahnya.

16. Begitu juga jika seorang bhikkhu diberkati dengan dhamma, ia mampu berkembang menambah pengetahuannya tentang dhamma dan disiplin.

Apa yang dimaksud dengan 11 dhamma itu ? di sini seorang bhikkhu mempunyai kemampuan, ia mempunyai kepribadian, ia dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk ia dapat menutupi kekurangnnya, ia dapat memadamkan nafsunya, ia tahu jalan yang benar, ia mempunyai kemampuan untuk membimbing, sebagai seorang pembimbing ia mempunyai pengetahuan yang cukup dan ia dapat memberikan saran-saran kepada anggota-anggota sangha yang lebih tua yang merupakan pembimbingnya.

17-- Bagaimana seorang bhikkhu mempunyai pengetahuan ? Di sini seorang bhikkhu mengerti apa itu pengetahuan yang sesungguhnya; semua bentuk benda terdiri dari 4 unsur utama dan semua bentuk itu didapat dari 4 unsur utama.

18-- Bagaimana seorang bhikkhu mempunyai kepribadian ? Di sini seorang bhikkhu mengerti apa itu kepribadian yang sesungguhnya; seorang yang bodoh dapat dilihat dari perbuatannya demikian pula dengan orang yang bijaksana.

19-- Kenapa seorang bhikkhu dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk ? Ketika nafsunya muncul ia dapat melawannya, ketika dendam dan kebencian muncul ia dapat menghilangkannya demikian pula ketika mara muncul ia dapat melenyapkannya.

Bagaimana seorang bhikkhu dapat menutupi kekurangannya ? Jika seorang bhikkhu tidak memahami bentuk-bentuk dan ciri-ciri pandangan yang salah di mana ia tidak menjaga panca inderanya, marah, iri hati dan kebencian akan menggodanya, dia berlatih untuk mengendalikannya, dia menjaga panca inderanya, dengan pendengarannya, dengan penciumannya, dengan perasaannnya dengan memahami kenyataan yang sebenarnya, dan kesadarannya akan dhamma ia dapat menutupi kekurangannya.

Bagaimana seorang bhikkhu menghilangkan hawa nafsu ? Di sini seorang bhikkhu mengajarkan dhamma secara terperinci yang telah dipelajari dan dikuasainya.

Bagaimana seorang bhikkhu dapat mengetahui ladang yang subur ? Di sini seorang bhikkhu kadang-kadang harus pergi ke suatu tempat untuk belajar sebanyak-banyaknya seperti yang dikatakan dalam kitab. Mengingat Dhamma, disiplin serta tanda-tanda dan memberikan pertanyaan mengenai mereka sebagai berikut : "Bagaimana ini, yang mulia apa artinya semua ini ? Orang yang terpuji itu mengungkapkan apa yang tidak terungkap dan membuat jelas apa yang tidak jelas, menghilangkan keraguan mengenai bermacarn-macam dhamma". Bagaimana seorang bhikkhu tahu apa yang diterimanya ? Di sini jika dhamma dan disiplin yang dibabarkan oleh seorang Tathagata tengah diajari seorang bhikkhu mendapatkan pengalamannya, mengenai dhamma dan ia menemukan kebahagiaannya.

24-- Bagaimana seorang bhikkhu tahu akan jalan kebenaran ? Di sini seorang bhikkhu mengerti 4 satipatthana yang sesungguhnya

25-- Bagaimana seorang bhikkhu mampu membimbing umatnya? Disini', seorang bhikkhu mengerti 4 satipatthana yang sesungguhnya.

26-- Bagaimana seorang bhikkhu dapat mempunyai sesuatu ? Di sini seorang pemilik rumah yang setia mengundangnya makan, jubah serta tempat bernaung dan obat-obatan. Bhikkhu itu tahu berapa banyak yang diterimanya.

27-- "Bagaimana seorang bhikkhu membuat saran kepada bhikkhu tua yang mempunyai pengetahuan yang luas yang merupaka pembimbingnya ? Di sini bhikkhu dapat mempertahankan depan umum dan secara pribadi terhadap bhikkhu yang lebi mempunyai cinta kasih yang tinggi baik dalam perkataann] perbuatannya.

“… jika seorang bhikkhu diberkati 11 dhamma, dia mampu tumbo menambah pengetahuannya dalam dhamma dan disiplin " Itulah yang dikatakan oleh yang terhormat. Bhikkhu ini memuaskan dan mereko ; sedang diberkati oleh kata-kata yang bijaksana.

032-Mahagosingasutta.

MARAGOSINGA SUTTA

32

1. Demikianlah yang saya dengar.

Pada suatu waktu Sang Bhagava bersama-saina dengan para bhikkhu thera yaitu: Sariputta, Maha Moggallana, Maha Kassapa. Anuruddha Revata, Anandadan para bhikkhu thera lainnya berada di hutan Sala Gosinga.

2. Diwaktu malam bhikkhu Maha Moggallana bangkit dari meditasi, beliau menemui bhikkhu Maha - Kassapa dan berkata kepadanya : "Avuso Kassapa, marilah kita pergi menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. "Baiklah, Avuso," jawab bhikkhu Kassapa. Lalu bhikkhu Maha Moggallana,,bhikkhu Maha Kassapa dan bhikkhu Anuruddhu menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhamma.

3 . Bhikkhu Ananda melihat mereka sewaktu pergi menemui bhikhhu. Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. Ketika ia melihat mereka, ia menemui bhikkhu Revata dan berkata kepadanya: " Avuso Revata, bhikkhu Maha Moggallana dan bhikkhu lainnya pergi menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhamma. Marilah kita juga pergi menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhanuna". "Baiklah, Avuso", jawab bhikkhu Revata. Kemudian bhikkhu Revata dan bhikkhu Ananda menemui bhikkhu Sariputta untuk mendengarkan Dhanima.

4. Bhikkhu Sariputta melihat bhikkhu Revata dan bhikkhu Ananda mendatangi. Ketika beliau melihatnya, beliau berkata kepada bhikkhu Ananda:'Selamat datang Ananda, silahkan Ananda, pengiring Sang Bhagava, yang selalu dekat dengan Sang Bhagava. Avuso Ananda, Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, semerbak dan wanginya seakanakan memancarkan aroma surgawi: 'Bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga'.

"Sariputta, dalam hal ini seorang bhikkhu setelah belajar (mendengar) banyak, mengingat apa yang dipelajarinya, merangkum apa yang telah dipelajari: berupa dhamma yang sedemikian indah pada awal, pertengahan dan akhir, dengan pengertian dan ungkapan (yang benar) sebagaimana ditegaskan dalam kehidupan suci yang benar-benar sempurna dan murni.

Dhamma seperti ini yang banyak dipelajari, diingatnya, dirangkumnya secara lisan, dijaganya dengan pikiran, diresapinya dengan baik oleh pandangan benar: ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok orang dengan ungkapan-ungkapan dan suku-suku kata yang lengkap dan tidak meragukan bagi lenyapnya kecenderungan-kecenderungan (anusaya) yang laten. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan pada Hutan pohon Sala Gosinga."

5. Setelah hal itu dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Revata; " Avuso Revata, bhikkhu Ananda telah berbicara sebagaimana menurutnya. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Revata: Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, semerbak dan wanginya seakanakan memancarkan aroma surgawi:"Bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?'.

'Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu berbahagia dalam pengasingan diri, merasa bahagia dalam pengasingan diri, mengabdikan dirinya pada ketenangan pikiran, tidak melalaikan Jhana, memiliki pandangan terang, sering menyepi di pondok-pondok meditasi, Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga.'

6. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Anuruddha: "Avuso Anuruddha, bhikkhu Revata telah berbicara sebagaimana menurut beliau. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Anuruddha:'Avuso Anuruddha, Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan ...' bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?

"Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu me'ngamati alam semesta dengan mata dewa (dibbacakkhu), yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa. Sebagaimana seseorang dengan mata (yang baik) sewaktu ia pergi ke teras tingkat atas istana sehingga dapat mengamati seribu kerangka roda: demikian juga, seorang bhikkhu mengainati seribu alam dengan mata dewa, yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa. Bhikkhu yang seperti ini akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".

7. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Maha Kassapa: "Avuso Kassapa, bhikkhu Anuruddha telah berbicara sebagaimana menurut beliau. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Maha Kassapa: " Avuso Maha Kassapa, Hutan pohon Sala Gosinga, sangat menyenangkan... bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?"

"Sariputta, dalam hal ini seorang bhikkhu yang dirinya sendiri berdiam di hutan dan menghargai kediaman di hutan, ia sendiri makan dari pindapata dan menghargai makan dari pindapata, ia sendiri mengenakan jubah dari kain bekas pembungkus mayat (pamsakulacavara) dan menghargai pemakaian ticivara, ia sendiri memiliki keinginan yang sedikit dan menghargai pemilikan keinginan yang sedikit, ia sendiri selalu puas dan menghargai kepuasan, ia sendiri tenang dan menghargai ketenangan, ia sendiri tidak terlihat (dalain keramaian) dan menghargai ketidak terlibatan (dalam keramaian), ia sendiri bersemangat dan menghargai semangat (viriya), ia sendiri memiliki sila yang sempurna dan menghargai sila sempurna, ia sendiri sempuma samadhinya dan menghargai kesempurnaan samadhi, ia sendiri sempurna kebijaksanaannnya (panna) dan menghargai kesempurnaan kebijaksanaan, ia sendiri sempurna kesuciannya (vimutti) dan menghargai kesempurnaan kesuciannya, pengetahuannnya (nana) dan penglihatannnya (dassana), juga menghargai kesempurnaan kesucian, pengetahuan dan penglihatan. Bhikkhu seperti ini akan memberikan penghargaan pada Hutan pohon Sala Gosinga.

8. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Sariputta berkata kepada bhikkhu Maha Moggallana: "Avuso Moggalana, bhikkhu Maha Kassapa telah gagal berbicara sebagaimana menurut beliau. Sekarang kami menanyakan kepada Avuso Moggallana: Hutan pohon Sala Gosinga, sangat menyenangkan... bhikkhu bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ?"

"Sariputta, dalam hal ini, ada dua orang bhikkhu terlibat dalam pembicaraan tentang Abhidhamma, mereka saling bertanya satu sama lain, masing-masing yang ditanya oleh yang lainnya menjawab tanpa merasa dipojokkan dan pembicaraan mereka berlanjut sesuai dengan dhamma. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".

9. Ketika hal ini dikatakan, bhikkhu Maha Moggallana berkata kepada bhikkhu sariputta: "Avuso Sariputta, kami semua telah berbicara sebagaimana menurut kami masing-masing. Sekarang kami menanyakan kepada bhikkhu Sariputta: 'Hutan pohon sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, semerbak dan wanginya seakan-akan memancarkan aroma surgawi ; Bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga?'

"Moggallana, dalam hal ini, scorang bhikkhu berkuasa atas pikirannya sendiri, ia tidak membiarkan pikiran berkuasa atas dirinya: dia menghayati di pagi hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di pagi hari: ia menghayati di siang hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di siang hari; ia menghayati di sore hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di sore hari. Misalkan seorang raja atau seorang menterinya memiliki baju yang penuh variasi warna di bagian dadanya, ia mengenakan di pagi hari setelah pakaian apapun yang ingin dikenakannya, mengenakan di sore hari setelah pakaian apapun dikenakannya,, demikian juga, seorang bhikkhu berkuasa atas pikirannya, ia tidak membiarkan pikiran berkuasa atas dirinya. Pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di sore hari. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga'.

10. Kemudian Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikkhu tersebut: "Para Avuso, kita semua telah berbicara sebagaimana menurut kita masing-masing. Marilah kita menghadap Sang Bhagava dan menceritakan hal ini. Bila Sang Bhagava menjawab, marilah kitamenghayatinya

"Baiklah, sahabat", jawab mereka.

Kemudian mereka pergi menghadap sang Bhagava, setelah memberikan penghorinatan kepada-Nya, mereka duduk di tempat yang tersedia. Setelah itu, Bhikkhu Sariputta berkata kepada sang Bhagava:

11. Bhante, Bhikkhu Revata dan Bhikkhu Ananda menemui saya untuk mendengarkan Dhamma. Saya mehhat mereka mendatangi, ketika saya melihat mereka, saya berkata kepada Bhikkhu Ananda: "Datanglah Avuso Ananda, selamat datang Avuso Ananda, pengiring Sang Bhagava yang selalu dekat dengan Sang Bhagava. Avuso Ananda, Hutan pohon Sala Gosinga sangat menyenangkan, malam disinari bulan, pohon-pohon Sala semua bermekaran, dan semerbak wanginya seakan-akan memancarkan aroma surgawi:bhikkhu yang bagaimanakah yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga?'

Bhante, ketika hal ini dikatakan bhikkhu Ananda berkata kepada saya:"Avuso Sariputta, seorang setelah belajar banyak .... (seperti pada alinea 4) ... untuk lenyapnya kecenderungan-kecenderungan (anusaya) laten. Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".

"Baik, baik Sariputta, Ananda mengatakan sebenamya sebagaimana telah ia lakukan, karena ia telah belajar banyak dan merangkum apa yang telah dipelajarinya: berupa dhamma yang indah di awalnya, pada pertengahannya dan pada akhimya dengan pengertian dan ungkapan (yang benar), sebagaimana dianjurkan dalam kehidupan luhur yang benar-benar sempurna dan suci, dhamma semacam ini telah banyak ia pelajari, diingat, dirangkum secara lisan, diperiksa dengan pikiran, dan ditembusinya secara baik dengan pandangan (benar): dan ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok manusia dengan kalimat-kalimat dan kata-kata yang lengkap dan tidak diragukan lagi demi lenyapnya kecenderungan-kecenderungan (anusaya) laten".

12. "Bhante, ketika hal ini dikatakan, saya berkata kepada bhikkhu Revata:'Avuso Revata ... (seperti disebut di atas)...bagaimanakah bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon sala Gosinga ?" Bhante, ketika hal itu dikatakan," bhikkhu Revata berkata demikian kepada saya: 'Sariputta, dalain hal ini seorang bhikkhu yang sedang dalain pengasingan diri ...(seperti pada alinea 5)... Bhikkhu semacam ini akan membri penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".

"Baik, baik Sariputta. Revata berbicara sebenarnya sebagaimana telah ia lakukan, karena ia senang dalam pengasingan diri, merasa senang dalam pengasingan diri, mengabdikan dirinya terhadap ketenangan pikiran, tidak melalaikan Jhana, diberkahi pandangan terang dan scorang yang sering menetap ada pondok-pondok kosong.

13. "Bhante, ketika hal ini dikatakan saya berkata kepada Bhikkhu Anuruddha : ... (seperti 'pada alinea 6) ... macam bikkhu apakah yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga ? Bhante, ketika hal itu dikatakan. Bhikkhu Anuruddha berkata demikian kepada saya : "Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu semacam ini akan memberikan penghargaan terhadap Hotan pohon Sala Gosinga? "Bhante, ketika hal itu dikatakan bhikkhu Anuruddha berkata demikian kepada saya : "Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu menyelidiki alam semesta ... (seperti pada alinea 6) ... Bikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".

"Baik, baik Sariputta. Anuruddha berbicara sebenarnya sebagaimana telah ia lakukan, karena Anuruddha menyelidiki alam semesta dengan mata dewa (dibbackkhu)yang suci dan melampaui kemampuan mata manusia biasa".

14. "Bhante, ketika hal ini dikatakan, saya berkata kepada bhikkhu Maha Kassapa: 'Avuso Kassapa ... (seperti pada alinea 7) ... Bagaimana bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga? 'Bhante, ketika hal itu dikatakan, bhikkhu Maha Kassapa berkata demikian kepada saya: Sariputta, dalam hal ini, seorang bhikkhu merupakan penghuni hutan ... (seperti pada alinea 7) ... Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga". "Baik, baik Sariputta. Kassapa berbicara sebenarnya bagaimana telah ia lakukan, karena Kassapa sendiri merupakan penghuni hutan dan seorang yang menghargai kediaman di hutan .... ia sempurna dalain pengetahuan dan pandangan tentang pembebasan".

15. "Bhante, ketika hal ini dikatakan, saya berkata kepada bhikkhu Maha Moggallana: 'Avuso Moggallana ... (seperi pada alinea 8) ... bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga? "Bhante, ketika hal itu dikatakan, bhikkhu Maha Moggallana berkata demikian kepada saya: "Sariputta, dalam hal ini, dua orang bhikkhu yang terlibat sebuah pembicaraan tentang Abhidhamma ... (seperti pada alinea 8) ... Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga". "Baik, baik Sariputta. Moggallana berbicara sebenamya sebagaimana telah ia lakukan, karena Moggallana adalah seorang yang membicarakan Dhamma".

16. Ketika hal itu dikatakan. Bhikkhu Maha Moggallana berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, kemudian saya berkata kepada bhikkhu Sariputta: 'Avuso Sariputta ... (seperti pada alinea 9) ... Bagaimana bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga?'

Bhante, ketika hal itu di katakan, bhikkhu Sariputta berkata demikian kepada saya: 'Moggallana, dalam hal ini seorang bhikkhu berkuasa atas pikirannya sendiri ... (seperti pada alinea 9) ... bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga. "Baik, baik Moggallana.

"Baik, baik Moggallana. Sariputta berbicara sebenarnya sebagaimana telah ia lakukan, karena Sariputta menguasai pikirannya sendiri, ia tidak membiarkan pikirannya berkuasa atas dirinya: ia menghayati di pagi hari; ia menghayati di siang hari penghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di siang hari; ia menghayati di sore hari panghayatan atau pencapaian apapun yang ingin dihayatinya di sore hari'.

17. Ketika hal itu dikatakan. Bhikkhu Maha Moggallana berkata kepada Sang Bhagava: "Siapakah yang telah berbicara dengan baik?" "Sariputta, semua telah berbicara dengan baik, masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri. Dengarlah juga dariku bagaimana bhikkhu yang memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga: 'Sariputta, dalam hal ini, setelah seorang bhikkhu kembali diri pindapata dan selesai makan, ia duduk, melipat kakinya bersilangan,ia mengembangkan perhatian (sati) dirinya dan bertekad bahwa'saya tidak akan berhenti sampai pikiran saya terbebas dari noda-noda batin (asaya) karena timbulnya pengetahuan (nana). 'Bhikkhu seperti ini yang akan memberikan penghargaan terhadap Hutan pohon Sala Gosinga".

Itulah apa yang dikatakan oleh Sang,Bhagava. para bhikkhu merasa puas dan mereka berbahagia karena kata-kata Sang Bhagava.